Padepokan Sastra Tan Tular

Membaca Sebagai Kesenangan, Bukan Kewajiban

Ilust by : Endah Gunawan

 

Dalam sebuah lokawicara literasi yang saya hadiri di sebuah sekolah swasta baik di Malang, saya berjumpa dengan para siswa yang ternyata mengeluhkan program wajib membaca di sekolah mereka. Kewajiban membaca 10 menit setiap pagi dan membuat rangkuman justru membuat mereka makin tidak suka membaca. Padahal, di luar jam sekolah, sebagian dari mereka suka menghabiskan waktu dengan membaca sebagai kesenangan.

Program Wajib yang Kontraproduktif

Dilansir dari laman Perpustakaan Nasional, secara statistik, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia pada tahun 2024 mencatat skor 73,52, melampaui target 71,4 dan hasil tahun sebelumnya yang berada di angka 69,42. Namun, berdasarkan Program for International Student Assessment (PISA) 2022, skor literasi membaca Indonesia hanya mencapai 359 poin, menurun dibandingkan 2018 yang sebesar 371 poin. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan dalam indeks literasi, kemampuan membaca siswa Indonesia masih belum dapat dibanggakan.

Di tengah upaya nasional meningkatkan minat baca, membaca memang makin sering diposisikan sebagai aktivitas wajib. Anak-anak dibebani target membaca sekian buku dalam sebulan, diminta membuat ringkasan, ikut lomba membaca cepat, bahkan terkadang diberi hukuman kalau tidak membaca.

Kampanye “ayo membaca” yang mestinya memotivasi justru bisa menjadi tekanan tersendiri, terutama bagi anak-anak dan remaja. Ironisnya, dalam semangat mendorong literasi, kita lupa satu hal penting: membaca pada dasarnya adalah aktivitas sukarela yang seharusnya menyenangkan.

Dalam dunia pendidikan dan keluarga, kita terlalu sering memandang aktivitas membaca seperti pendekatan terhadap pelajaran sekolah: ada target, tugas, penilaian. Padahal, tidak semua hal bisa atau perlu dimasukkan ke dalam sistem formal seperti itu. Ketika membaca dijadikan kewajiban, ia kehilangan daya tarik alaminya. Anak-anak mungkin membaca, tapi bukan karena suka. Mereka membaca karena takut dimarahi, atau karena ingin mendapatkan nilai bagus. Hasilnya, begitu kewajiban itu hilang, keinginan membaca pun ikut lenyap.

Sebaliknya, membaca sebagai hobi justru punya kekuatan jangka panjang. Orang yang menyukai membaca tidak butuh disuruh. Mereka akan mencari buku sendiri, membaca dengan senang hati, dan mengembangkan wawasan tanpa paksaan. Kita membutuhkan generasi yang jatuh cinta pada buku, bukan yang hanya patuh pada perintah membaca.        

Bermula dari Rumah

Anak-anak belajar lebih banyak dari hal yang mereka lihat dibanding dari yang mereka dengar. Jika anak tumbuh di rumah yang penuh dengan televisi hiburan yang terus menyala, gawai terus-menerus di tangan, dan buku-buku hanya jadi pajangan di rak, maka harapan anak akan suka membaca tentu sulit terwujud.

Salah satu cara paling sederhana adalah dengan menjadikan membaca bagian dari rutinitas harian keluarga. Misalnya, menyisihkan waktu 15–30 menit sebelum tidur untuk membaca bersama. Bukan membaca buku pelajaran atau buku “serius”, tapi buku cerita, komik, atau bacaan ringan yang menyenangkan. Orang tua juga bisa bercerita tentang buku yang mereka baca, memperlihatkan bahwa membaca itu bukan tugas, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari yang menyenangkan.

Hal yang juga penting: berhenti menghakimi buku yang dibaca anak. Banyak orang tua buru-buru melarang anak membaca komik atau novel ringan karena dianggap tidak bermanfaat. Padahal, justru dari kesenangan membaca komik, anak bisa pelan-pelan tertarik membaca hal-hal lain. Tidak semua minat harus langsung diarahkan ke sesuatu yang bernilai atau mengandung pesan moral. Minat membaca itu seperti api kecil yang perlu ditiup pelan-pelan, bukan disiram dengan tuntutan.

Sekolah Tanpa Tekanan

Sebagai lembaga formal, sekolah, sayangnya sering kali menjadi tempat di mana membaca justru kehilangan sisi menyenangkannya. Buku bacaan dijadikan tugas, disuruh diringkas, dinilai. Bahkan ada sekolah yang menargetkan jumlah buku tertentu yang harus dibaca siswa setiap bulan. Mungkin niatnya baik, ingin memaksakan kebiasaan positif, tapi cara ini justru bisa membunuh rasa ingin tahu alami.

Salah satu alternatif pendekatan adalah menyediakan waktu khusus membaca bebas, tanpa tugas atau evaluasi. Misalnya, 20 menit pada awal pelajaran setiap hari, siswa boleh membaca apapun yang mereka sukai. Tidak ada tes, tidak ada laporan. Hanya membaca karena ingin. Guru juga bisa membuat sesi berbagi bacaan, saat siswa yang ingin berbagi dapat menceritakan buku favorit yang sedang ia baca tanpa tekanan. Kegiatan ini bukan untuk dinilai, tapi untuk menumbuhkan semangat berbagi dan eksplorasi.

Selain itu, koleksi bacaan di sekolah juga perlu lebih beragam. Jangan hanya menyediakan buku “bermutu” versi orang dewasa. Sediakan juga komik, novel remaja, majalah anak, bahkan cerita-cerita lucu. Ingat, anak-anak tidak langsung menyukai bacaan berat. Mereka butuh jembatan; bacaan yang dekat dengan minat dan dunia mereka. Dari situlah ketertarikan bisa tumbuh.

Membaca sebagai Gaya Hidup

Banyak anak muda sekarang terpapar konten digital yang cepat dan instan. Mereka lebih akrab dengan video pendek daripada paragraf panjang. Ini bukan kesalahan mereka, tapi realitas media saat ini. Oleh karena itu, alih-alih mengajak membaca dengan gaya kampanye formal, lebih efektif jika membaca dibawa ke ruang yang mereka akrab: media sosial, komunitas, bahkan ruang nongkrong. Misalnya, klub baca remaja di mana anggotanya mendiskusikan novel-novel popular, atau membuat konten video yang membahas buku dengan gaya santai. Bisa juga membuka pojok baca di kafe atau taman yang dirancang bukan seperti perpustakaan. Tempat santai juga estetik, instagrammable, dan ramah anak muda.

Di sekolah, ruang baca yang kaku dan sunyi bisa dirancang lebih menarik, seperti lounge, dengan bantal, bean bag, dan poster menarik. Suasana nyaman sering kali jauh lebih efektif menarik minat baca daripada perintah atau aturan.

Menumbuhkan minat baca bukan soal membuat anak membaca lima buku dalam sebulan, tapi membuat mereka ingin membaca sepanjang hidup. Artinya, proses ini memerlukan kesabaran, pendekatan yang konsisten, dan yang paling penting: kepercayaan pada anak.

Anak-anak punya rasa ingin tahu alami. Tugas kita bukan memaksakan bacaan, tapi menyediakan lingkungan yang mendukung keingintahuan itu tumbuh. Tidak semua anak akan langsung menyukai membaca. Namun, setidaknya jika kita tidak membuat mereka takut atau tertekan oleh buku, kemungkinan besar lama-kelamaan mereka akan mendatangi dan memeluk buku dengan sendirinya. Saat membaca kembali jadi aktivitas yang menyenangkan, buku akan jadi bagian dari hidup. Inilah kemenangan sejati dalam membangun budaya literasi.

Bagikan 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *