Beberapa bulan lalu laporan Research Integrity Index (RI²) yang dirilis oleh peneliti internasional Lokman Meho menyatakan bahwa terdapat perguruan tinggi yang tercatat masuk dalam zona risiko integritas penelitian. Research Integrity Index (RI²) adalah bentuk pemeringkatan universitas yang dirancang sebagai alternatif dari sistem ranking tradisional. Berbeda dengan peringkat konvensional yang cenderung menitikberatkan pada banyaknya publikasi, RI² lebih memberi perhatian pada mutu serta integritas etika dalam kegiatan penelitian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa terdapat beberapa perguruan tinggi negeri yang masuk ke dalam zona risiko integritas penelitian, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Brawijaya (UB). RI² menekankan bahwa reputasi akademik tidak semata diukur dari jumlah publikasi, melainkan juga dari integritas ilmiah, keterbukaan dalam metode penelitian, serta tanggung jawab dalam menentukan tempat publikasi.
Feodalisme di Lingkungan Pendidikan
Hal lain yang tak kalah penting adalah feodalisme yang terus tumbuh di lingkungan pendidikan. Kamis, 30 Oktober 2025, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Brawijaya mengadakan acara Brawijaya Inspire Talk, mengundang Ferry Irwandi, aktivis sekaligus salah satu pendiri Malaka Project. Dalam seminar tersebut Ferry membahas iklim riset di Indonesia dan juga sistem feodalisme dalam lingkungan pendidikan.
Sering kali praktik-praktik feodalisme yang diterapkan dalam lingkungan pendidikan lambat laun dianggap sebagai norma kesopanan dalam masyarakat. Dalam seminar yang dilaksanakan di Auditorium Universitas Brawijaya tersebut Ferry menjelaskan sulitnya masyarakat dalam membedakan sopan santun dan feodalisme.
Menurutnya, feodalisme mulai tumbuh saat seseorang merasa memiliki dominasi atas orang lain. “Kita tidak sadar bahwa feodalisme adalah feodalisme, misalnya kalau memanggil dosen harus dengan gelarnya. Atau saat kakak tingkat (kating) ingin selalu dihormati oleh juniornya. Bahkan ada saat kating yang menyatakan perasaan kepada juniornya merasa harus diterima,” ucap Ferry Irwandi.
Tumbuhnya feodalisme dalam ruang pendidikan ini, menurut Ferry, membuat output dan input pendidikan tidak maksimal sesuai dengan tujuannya. Contohnya, saat penjelasan pengajar tidak dapat dibantah dan tidak terjadi ruang diskusi. Saat siswa sungkan untuk bertanya karena takut dianggap bodoh dan omongan pengajar selalu benar, tumpulnya pikiran kritis pelajar menjadi taruhannya. Kondisi ini menghasilkan pelajar-pelajar yang tidak dapat berpikir kritis dan berlogika, tidak mampu bertindak rasional, serta tidak berintegritas.
Mengembalikan Fitrah Pendidikan
Selain membahas feodalisme dalam pendidikan, Ferry Irwandi juga membahas mengenai iklim riset di Indonesia. Menanggapi temuan bahwa terdapat banyak peneliti yang melakukan banyak publikasi untuk sekadar mendongkrak reputasi akademik mereka, Ferry Irwandi berpendapat bahwa hal ini merupakan realita bahwa Research and Development (RnD) di Indonesia terbatas menjadi produk kosong yang akhirnya dijadikan bungkus gorengan. Berbanding terbalik dengan penelitian di negara lain, misalnya di Korea yang menjadikan penelitian sebagai investasi dan pengembangan.
Pendidikan pada akhirnya akan memperlihatkan pengaruhnya pada berbagai aspek dalam kehidupan. Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya, apakah saat ini pendidikan masih merupakan hal yang penting dan apakah berkuliah masih memiliki nilai relevan dalam masyarakat? Menanggapi pertanyaan ini, Ferry Irwandi menjelaskan bahwa pendidikan harusnya membentuk individu untuk memiliki kesadaran. Saat kita punya kesadaran kolektif dan lingkungan yang mendukung maka decision making yang kita buat bisa lebih baik. Lalu, apakah berkuliah masih relevan di masa sekarang? Dalam jawabannya, Ferry menjelaskan bahwa saat seseorang berkuliah, opsi yang ia miliki akan lebih banyak. Seperti bermain gim, kuliah menjadi salah satu proses untuk mempersiapkan diri menghadapi misi selanjutnya dalam kehidupan. Dengan berkuliah, seseorang dapat memiliki pengetahuan, value, choice, opportunity, bahkan love.
Pertanyaan terakhir yang diajukan oleh peserta lainnya yaitu mengenai peran kecil yang bisa kita ambil untuk perbaikan pendidikan supaya tidak berfokus pada bentuk transaksional. Pertanyaan tersebut kemudian ditanggapi oleh Ferry dengan menjelaskan bahwa setiap tindakan yang dilakukan manusia adalah tindakan transaksional. Every decision makes cost. Kesalahan yang terjadi di Indonesia adalah menilai sesuatu hanya berdasarkan moralitas. Misalnya, jargon guru tanpa tanda jasa bersumbangsih menyebabkan pemakluman akan rendahnya gaji guru. Sebaliknya, peningkatan gaji guru juga akan berkontribusi pada peningkatan seleksi dalam pendidikan keguruan dan kualitas guru. Jadi, menurut Ferry, tidak semua transaksi bersifat buruk, tergantung bentuk transaksi dan tujuan yang ingin dicapai.




