Padepokan Sastra Tan Tular

Resensi Buku Tumapel : Cikal Bakal Majapahit

Judul : Tumapel : Cikal Bakal Majapahit
Penulis : Henricus Supriyanto
Penerbit : Beranda (PT. Cita Intrans Selaras)
Kota Terbit : Malang
Tahun Terbit : 2023 (Edisi revisi)
Tebal : 264 halaman

Buku ini membahas tentang asal-usul, perkembangan, serta latar belakang historis wilayah Kerajaan Tumapel atau Singasari yang nantinya menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Penulis membuat buku ini berdasarkan tesisnya yang bertujuan menghadirkan peristiwa sejarah masa lalu ke masa kini. Pascaterbit, pada edisi pertamanya tahun 2021, Henricus Supriyanto mendapat banyak kritik dan saran yang membangun dari para teman sejawat bidang sejarah sehingga pada tahun 2023 ia kembali menulis dan menerbitkan edisi revisi dengan judul yang sama. Kehadiran edisi revisi ini menandakan adanya pembaruan data, penyeimbangan interpretasi sejarah, serta penambahan perspektif baru yang ditemukan penulis selama masa penelitian lanjutannya, menjadikannya referensi yang lebih matang dibanding edisi sebelumnya. 

Narasi Silsilah Keluarga Raja Tumapel dan Majapahit

Penulis mengemas sejarah dengan menelusuri garis silsilah dan keluarga raja Tumapel dan Majapahit. Penelusuran jejak perkawinan dan identifikasi pelaku sejarah direkonstruksi silang dengan mengaitkan buku Pararaton dan Negarakertagama serta prasasti yang sezaman seperti Prasasti Mula Malurung. Pada prasasti tersebut catatan sejarah tertulis bahwa Raja Seminingrat (Wisnuwardhana) memberikan hadiah tanah kepada Pranajaya (pengikut setia Raja Tumapel). Dari prasasti tersebut hubungan kekerabatan kerajaan dapat diketahui. Wilayah Tumapel sendiri pada zaman sekarang meliputi pemerintahan daerah Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.

Peristiwa bersejarah kerajaan Tumapel yang nantinya menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit berasal dari runtuhnya Kedaton Singasari pada Juni 1292. Raja Jayakatwang dari Gelang-Gelang menyerang Kedaton Singasari. Prabu Kertanegara dari kerajaan Singasari kemudian menunjuk menantunya, Raden Wijaya dan prajuritnya melawan prajurit dari Gelang-Gelang. Dalam peperangan tersebut Kedaton Singasari runtuh dan Raden Wijaya membuka Hutan Tarik atas perintah Raja Jayakatwang. 

Kerajaan Majapahit muncul setelah Kaisar Khu Bilai Khan dari Kekaisaran Mongol yang memimpin Dinasti Yuan mengirimkan 5.000 pasukannya, prajurit Tartar, ke Jawa untuk menghukum Prabu Kertanegara yang telah menyakiti utusan Kaisar Kubilai Khan (tahun 1289). Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol di desanya, Majapahit, untuk mengalahkan Jayakatwang dengan berjanji akan tunduk kepada Kubilai Khan. Pada 20 Maret 1293, aliansi Mongol dan Majapahit berhasil menggempur Kadiri hingga memaksa Jayakatwang menyerah. Namun, setelah kemenangan tersebut, Raden Wijaya berbalik menyerang dan mengusir pasukan Mongol dari Jawa. Sebelum angkat kaki, pihak Mongol sempat mengeksekusi Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka. Pada 24 April 1293, Prajurit Tartar kembali ke Daratan Cina dan Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit serta menjadi raja pertamanya.

Kekuatan Buku

Sebagai seorang akademisi dan peneliti yang mendalami sejarah serta kebudayaan Jawa, Henricus Supriyanto menyusun buku ini tidak sekadar sebagai narasi populer, melainkan sebagai sebuah karya yang ditulis dan didukung oleh pendekatan akademis dan eksplorasi data yang kuat. Tesis yang diajukan oleh penulis dijelaskan dengan bukti berupa data dan fakta yang diperoleh saat penulis mendalami sejarah Kerajaan Tumapel. 

Banyak orang familier dengan kebesaran Majapahit, tetapi narasi sejarah populer atau pelajaran di sekolah sering kali melompati detail masa transisi sebelum kerajaan itu berdiri. Buku ini menarik karena menempatkan Tumapel (wilayah yang dipimpin oleh Tunggul Ametung sebelum direbut oleh Ken Arok) sebagai fokus utama dari sebuah wilayah atau kerajaan yang menjadi fondasi politis, geografis, dan kultural yang nantinya melahirkan Dinasti Rajasa yang menguasai Majapahit. Bagi masyarakat Malang Raya, buku ini juga sangat relevan karena mengupas akar sejarah lokal yang membentuk identitas regional mereka. Buku ini membantu pembaca memahami bagaimana lanskap historis masa lalu bertransformasi menjadi wilayah modern saat ini.

Kelemahan  Buku

Sebagai karya seorang profesor dan peneliti, narasi di dalamnya sering kali menggunakan pendekatan ilmiah yang formal. Bagi pembaca awam yang mencari bacaan sejarah populer atau mengalir seperti novel (seperti kisah Ken Arok versi fiksi), buku ini mungkin terasa berat, padat, dan membutuhkan konsentrasi lebih untuk dipahami. Tetapi bagi penulis ilmiah buku ini sangat direkomendasikan untuk menjadi bahan referensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *